Showing posts with label wisdom. Show all posts
PESAN UNTUK ADIK-ADIK SAYA YANG MAU KULIAH 
(Selain Adik Saya Boleh Baca)

Sebelumnya SELAMAT DATANG DI MINIATUR NEGARA untuk ketiga adik saya yang akan memasuki jenjang persekolahan selanjutnya: Ahmad Intan Suwandi di ISI Padang Panjang, Clarissa Ruby Fortuna di ITB, dan Atin di Unand. Mungkin ada saja yang akan nanya: loh, kok mereka bisa barengan? Itu pertanyaan tidak penting. Sama tidak pentingnya menanyakan mengapa Atan tak lulus SBMPTN sampai 2 kali trial and error padahal dia juara. Yang penting setelah 2 tahun ini merambah belantara Jabodetabek, si Atan sudah nyadar bahwa "Hidup itu keras, kawan, dan kita kalah keras." Yang penting juga bahwa adik-adik saya akan kuliah dijurusan yang mereka inginkan, tanpa propaganda dan rekayasa pihak manapun. (Sori, jadi agak melantur).

Selayaknya seorang kakak, saya senang dicurhati adik, ditanyai adik seolah-olah saya tau segala hal dan mampu mengatasi semua masalah tanpa masalah (yekhh, iklan!). Maka beberapa hal tentang perkuliahan berikut ini saya harap bisa membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru. Maklum, mereka kan masih lugu. Masih bisa ditipu-tipu. Beda sama saya yang kadang suka menipu diri sendiri. ‪#‎bhuawahahahadduh‬, jangan dicontoh!

Mengapa saya post disini? Mengapa tidak japri adiknya langsung? Ini dikarenakan saya sedang berniat baik. Biar orang-orang tahu bahwa saya ini sangat perhatian pada adik-adik saya. Saya sebenarnya resah dan gelisah bila mereka tak lagi berkirim kabar. Pikiran saya jadi aneh-aneh. Jangan-jangan sudah ada pula yang lebih perhatian pada adik-adik saya itu melebihi saya, misalkan dengan sering mengirim SMS: "hai, dah mam blom?"
Jadi, Dik ... (Mohon simak baik-baik. Akak kalian yang ngomong ini seorang Kandidat Doktor lho ‪#‎kedipmata‬)

Pertama: APAPUN YANG KALIAN LAKUKAN, KALIAN HARUS TENANG. Jika tak tenang, ambil wudhu', shalat dan baca Qur'an lalu pikirkan lagi: "ini saya lagi ngapain?" Nah, segitu saja. Tak usah mikir yang berat-berat. Adakalanya otak itu harus pasrah dan tunduk, bahwa ia tak lebih hebat dari penciptaNya. Tenang itu bukan berarti harus selalu tertawa dan pura-pura tampak bahagia. Tapi tenang berarti selalu mampu melibatkan Allah dalam semua kerja. Begitu juga bila ingin membuat tugas. Ambil wudhu', shalat dan baca Qur'an. Nurani fitrahnya suci. Bila ditimbun dosa dan menghitam, apapun yang dikerjakan entah mengapa malah bikin sesak dada. Iman dan Ilmu itu selalu berkaitan. Kalau kata Buya Hamka; "Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri."

Kedua: DENGAN SIAPAPUN BERTEMAN, JADILAH IKAN. Maksudnya, TETAP TAWAR SEKALIPUN DI LAUTAN ASIN. Jangan bercermin di air keruh. Bukan berarti kalian harus berteman dengan orang yang itu-itu saja, kelompok itu-itu saja. Itu namanya membatasi diri. Tentang ini Akak anggap kalian sudah cukup mengerti. Soalnya Akak lihat kalian punya banyak teman. Mudah-mudahan bukan teman berhaha-hihi saja. Ngumpul-ngumpul disini, tapi di akhirat saling memaki.

Ketiga: PINTAR TAK ADA GUNA, BILA TAK BERMANFAAT UNTUK SESAMA. Ingat ini, pintar dan egois itu beda tipis. Apa yang Akak sampaikan ini telah pernah pula disampaikan bang Fauzan Fadri (perkataan yang membuat Akak "mainok-inok" sampai sekarang): "Kalau kita masih merasa cukup dan puas saja dengan masa depan anak kandung sendiri, atau keluarga sendiri saja, rasanya kita belum cukup untuk menjadi manusia bagus. Rima, bg sedih sekali melihat banyaknya orang-orang terdidik, intelektual, berpekerjaan bagus, mapan, tapi mereka hanya sebatas puas dengan dirinya sendiri saja. Mereka itu orang-orang yang tercerabut dari hati nuraninya sendiri sebagai manusia." silakan catat itu. Itu Akak kutip tanpa pengubahan seperlunya. Maka, adik-adikku tercinta, jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang) saja. Aktif lah dalam segala aktifitas yang memberi kemanfaatan bagi orang banyak. Sekecil apapun itu. Kita ini dihadirkan di dunia bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri. Seperti yang Akak bilang tadi, kampus itu miniatur negara. Jumlah orangnya tak lagi sekadar ratusan seperti jumlah kalian di SMA. Beragam gaya bahasa, bervariasi cara berpikir, banyak organisasi, banyak hal yang bisa dilakukan. Maka janganlah terkungkung dalam sempitnya tempurung.

Terakhir, JANGAN KEHILANGAN SELERA HUMOR. Orang-orang baper lebay alias mudah tersinggung biasanya karena selera humor yang mulai menghilang. Sehingga semua nasehat, masukan, kritik, maupun sekadar kata-kata pengingat, dianggap sebagai "serangan". Adakalanya kita pun harus menertawakan diri sendiri. Atas keseriusan kita yang tidak pada tempatnya. Atas kebodohan-kebodohan yang kita lakukan. Asal jangan menertawakan kegagalan orang lain, kasihan lah dia. Sudah jatuh, tertimpa tangga, menginjak tahi ayam pula.
Dunia ini hanya kesenangan yang menipu. Why so serius? Seriuslah untuk perkara-perkara yang membawa kebaikan, kemaslahatan. Fokus pada perkara ukhrawi, meski dengan tidak melupakan bagian kita di dunia juga. Yang sedang-sedang saja lah. Untuk duniawi yang hanya kita singgahi sekejap mata ini, jangan sampai frustrasi pula kita. Allah itu mencukupi segala kebutuhan kita, tapi memang, Dia tidak mencukupi gaya hidup. Sekali lagi. BIAYA HIDUP ITU TIDAK SEBERAPA. BIAYA GAYA HIDUP, ITU YANG MAHAL. Jadi, jangan banyak gaya. Baru S1 saja sudah banyak gaya, apalagi nanti kalau sudah S3. ‪#‎self‬ reminder

Segitu dulu ya. Nanti kalian bosan. Maaf, hari ini Akak jadi nyiyir. Soalnya kata seseorang nyiyir itu tanda sayang.

JUMU'AH MUBARAKAH!
‪#‎cipika‬ cipiki dari jauh
Matahari mulai turun perlahan seiring senja yang menyemburat di kejauhan. Kita berbincang menunggu detik-detik pergantian siang malam. Seperti biasanya bila kau pulang sebelum Maghrib menjelang.
"Ah, mengapa ya dunia itu kelihatan indah dimata? Padahal kita tahu akhiratlah yang abadi." Kataku sambil bersandar dibahumu. Kau diam saja menikmati tarikan nafas perlahan.
Aku menengadah dan melihat kau tersenyum. Lalu menatapku lamat-lamat.
"Karena dunia ada didepan mata, Sayang. Sementara akhirat itu jauuuuh sekali." Diluar, rintik sedang mengecupi bumi. Iramanya berpadu dengan desau pepohonan menari dihalaman. "Seumpama koin yang menutupi keindahan rembulan." Katamu sembari memejamkan mata. Entah karena lelah, atau sama sepertiku. Asyik menyimak nyanyian alam yang syahdu.

"Padahal kita tahu, koin lebih kecil daripada rembulan. Tetapi begitu koin kita letakkan didepan mata, maka rembulan pun tak lagi kelihatan." Kau asyik dalam imajinasimu sendiri, membuat lingkaran dengan telunjuk dan ibu jari lalu menggerakkan tangan seolah-olah sedang menjauhkannya dari mata. "Maka koin itu harus tetap di genggaman, Sayang. Agar kita bisa selalu menatap keindahan rembulan."

Aku tercenung. Tentang dunia ini, sebenarnya sudah sering kita membahasnya. Tetapi entah mengapa kadang hati tetap saja lalai dan larut didalam kesibukannya.

Aku pun pernah mendengar petuah bijak Ibn Qayyim al Jauzi, “Dunia ini ibarat bayangan, kejar dia dan engkau tak akan dapat menangkapnya. Balikkan badanmu darinya, dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu.”

Kita tahu kelak dunia akan ditinggalkan, namun mengapa larut dalam semunya kesenangan?
Kita tahu kelak dikubur sendirian, namun mengapa amalan kita abaikan?
Kita tahu kelak akan mati, namun mengapa dendam dengki masih bersemayam dihati?

Kita sama-sama telah tahu, namun mengapa kadang masih tertipu?

"Yuk, Shalat Maghrib."

Sekarang gantian aku yang menatapmu lamat-lamat. Ah, kau. Tahukah kau apa yang menggelisahkan hatiku? Aku khawatir kecintaanku padamu melebihi cintaku padaNya. Bila itu terjadi, maka kau lah koin yang menutupi keindahan rembulan. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdlHylNZg97P2unf1ahvHJsip-O0UT3AHjVhayf9Jo41FvdJQBxNIlfQ8SqQLrFkiWjqpW-tao974ZmcCJLsK0hESA2AfF47XQ-Vv5Fg3JRGRRnEv44gJKplgsql9LqkY1BR7TSl2qCUk/s1600/pasangan-hidup.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdlHylNZg97P2unf1ahvHJsip-O0UT3AHjVhayf9Jo41FvdJQBxNIlfQ8SqQLrFkiWjqpW-tao974ZmcCJLsK0hESA2AfF47XQ-Vv5Fg3JRGRRnEv44gJKplgsql9LqkY1BR7TSl2qCUk/s1600/pasangan-hidup.jpg
Sentul Alaya kala senja
August 2016

Dalam hidup ini, ada 3 tipologi manusia berdasarkan caranya membalas setiap perlakuan yang ia terima. 
Pertama, manusia luar biasa. Ialah mereka yang selalu membalas apapun yang datang padanya dengan kebaikan. Diperlakukan dengan jahat sekalipun, tetap membalas dengan kebaikan apalagi bila ia diberi kebaikan. Pada orang ini aku terkagum-kagum.
Kedua, manusia biasa -pada umumnya-, ialah mereka yang membalas setiap perlakuan sesuai dengan apa yang ia terima. Bila diperlakukan dengan baik, ia akan membalas dengan kebaikan. Dan bila diperlakukan dengan buruk, ia pun membalas dengan keburukan. Inilah manusia kebanyakan.
Ketiga, manusia yang selalu membalas setiap perlakuan orang lain padanya dengan kejahatan. Bahkan sekalipun diperlakukan dengan baik, ia tetap menampiknya dengan kasar. Guruku berkata, tak perlu mencela orang-orang seperti ini. Justru harusnya kita kasihan pada mereka. Mereka perlu didoakan. Lagipula, apa jangan-jangan kita sendiri kadang juga bersikap sama?

***
Itulah yang kudiskusikan dengan Hujan sampai larut tadi malam. Supaya kami jangan sampai termasuk tipe ketiga. Dan supaya aku dan Hujan saling mengingatkan sehingga bisa menjadi tipe pertama. Supaya kami mampu menahan diri untuk tidak terus-menerus berada pada level kedua. 

Berusaha menjadi pribadi yang mampu mengambil hikmah dari apa yang terjadi setiap hari. Berusaha memahami perlakuan yang kami terima dan bertekad untuk saling mengingatkan agar tak lagi mudah terpancing segala hal negatif di hidup ini... 
Seperti yang dinasehatkan Ustadz Rahmat Abdullah: "Dalam bermuamalah dengan manusia, dua hal yang harus engkau ingat dalam hidup ini. Kebaikannya padamu dan keburukanmu padanya. Dan dua hal pula yang harus engkau lupakan. Kebaikanmu kepadanya dan keburukannya kepadamu." Hanya itulah cara untuk menjadi sebenar-benar manusia berbahagia. Dengan lebih mengingat aib diri sendiri ketimbang menghitung dosa-dosa orang lain. That's why, I love this quote (by Salim A. Fillah):

membersamai orang-orang shalih
memang perintah Allah
memang keniscayaan bagi ikrar taqwa
tetapi meletakkan harapan atau menggantungkan kebaikan diri padanya
pada sosok itu adalah kesalahan dan kekecewaan
seorang sahabat berkata padaku
“aku ingin menikah
dengannya… hanya dengannya..”
aku bertanya mengapa
“agar ia menjadi imamku
agar ia membimbingku
agar ia mengajariku arti ikhlas dan cinta
agar ia membangunkanku shalat malam
agar ia membersamaiku
dalam santap buka yang sederhana”
“ahh… itulah masalahnya,” kataku
dan dia kini tahu bahwa khawatirku benar
bahwa sosok lelaki penyabar yang dia kenal
juga bisa marah, bahkan sering
bahwa sosok lelaki shalih yang dia damba
kadang sulit dibangunkan untuk
shalat subuh berjama’ah
bahwa lelaki yang menghafal juz-juz Al-Qur’an itu
tak pernah menyempatkan diri
mengajarinya a-ba-ta-tsa…
“ahh… itulah masalahnya”
semakin mengenali manusia
yang makin akrab bagi kita
pastilah aib-aibnya,
sedang mengenali Allah
pasti membuat kita mengakrabi kesempurnaanNya
maka gantunglah harapan dan segala niat untuk menjadi baik
hanya padaNya
hanya padaNya…
jadilah ia tali kokoh yang mengantar pada bahagia dan surga

10:20 PM

Hai self! Belakangan hidupku menjadi tidak mudah. Aku mencari-cari penyebabnya, sampai menulis catatan ini barulah aku tahu memang ada yang bermasalah. Padahal Amal yaumi ku baik-baik saja. Aku tetap konsisten melaksanakan dhuha 4 raka'at per hari, tetap tilawah 1 juz per hari, tetap berinfak selagi sempat. Tetapi, ada yang kurang. Ada yang mengganjal. Something weird, unspoken. Aku galau. Resah dan gelisah. Baper memang.Terlalu banyak hal-hal yang kukhawatirkan. Dan itu menggerogoti jiwaku. Memenuhi pikiranku sampai aku tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku. Yea, I knew that I think too much...

Hal yang paling parah dari semuanya: aku tak lagi bisa bermesraan denganNya. He seems too far to be reached. Semua kewajiban sebagai hambaNya memang kulakukan, tetapi hanyalah sebagai rutinitas. Rasanya pun biasa-biasa saja. Tak ada rasa dahsyat sehabis shalat. Tak ada rasa lega sehabis berpuasa. Tak ada senyum sumringah setelah bersedekah. Tak ada rasa tenang setelah melantunkan bait-bait suci al Qur'an.

Lalu, aku membaca kata-kata itu dalam sebuah buku. Judulnya membuatku tertarik untuk duduk sejenak. "Hidupkan Hatimu". Sederhana, namun aku memandang buku itu lamat-lamat dan beberapa jeda. Seolah harta karun yang kutemukan setelah mencari berhari-hari, padahal buku itu telah lama tertonggok disana. Ditulis oleh Dr. 'Aidh al-Qarni,

"Penyimpangan dan ketergelinciran seseorang kepada jalan yang dibenci Allah memang banyak penyebabnya. Jiwa yang kotor, kesukaan mengikuti hawa nafsu, panjang angan-angan, dan banyak menganggur tanpa kegiatan positif dan bermanfaat, merupakan pemicu timbulnya penyimpangan tersebut. Keadaan lalai dan ketidaksadaran kita akan terjadinya penyimpangan ini, tentu membuat iman kita menjadi merosot dan melemah, sehingga dosa bukan menjadi pertimbangan utama kita berbuat sekehendak kita. Manisnya iman tidak akan kita rasakan lagi karena pengaruh perbuatan menyimpang kita dari jalanNya cukup mendominasi sebagian sisi kehidupan kita. Nuansa kehidupan menjadi tidak indah, karena setiap saat dipenuhi dengan kesedihan yang membuat dada terasa sempit. Berbagai problem kehidupan pun datang menghadang seiring terhalangnya mendapatkan rezeki yang halal, bahkan sebagian hati manusia cenderung menjauh akibat sepak terjang kita yang terkadang membuat hati dan perasaan mereka tidak berkenan. Semua ini tentu membuat hati kita menjadi keras, sulit untuk menerima kebenaran, dan menjadikan hubungan kita dengan Allah renggang. Bila sudah demikian, tentu sepanjang usia yang kita jalani menjadi sia-sia, bahkan hidup menjadi tiada arti, belum lagi pertanggungjawaban yang harus kita hadapkan kepada Allah atas semua perbuatan kita kelak pada hari dimana semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan. "

Ah, Rabbi...
Aku terlalu asyik bermesraan dengan selainMu, sehingga aku kehilangan kemesraan bersamaMu. "Tamparan"Mu keras sekali, Kau hilangkan wibawaku dalam sekejap, dalam pandangan diriku sendiri. Sakit sekali melihat tampilan kemunafikan diri sendiri. Sakit sekali ketika mengajak orang untuk berbuat baik, namun tak yakin padamu karena aibmu tlah ditampakkan padanya.  Sakit sekali ketika dakwah jadi tak ampuh karena dosa yang telah menjadi bumerang. Memercik air di dulang, mengenai muka sendiri. Tungau di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Tapi tak apa, biarlah sakit di dunia daripada kelak disiksa di neraka.

Jangan hukum aku sehingga larut dalam maksiat, Rabbi... Apapun akan kulakukan agar Engkau kembali ridho padaku. Maka bantulah hatiku, agar kuat meninggalkan apa-apa yang memang sejak dulu Engkau larang. Jangan biarkan hati ini selalu melakukan pembenaran atas tindaka-tindakan yang melewati batas...


Yaa muqallib al quluub...

Aku merindukan sosok itu, sosok polos dan lugu yang tak mempan diuji dengan virus merah jambu.
Sosok yang hatinya hanya terisi dakwah, bukan ungkapan-ungkapan cinta bermuatan sampah.
Sosok yang Kau mudahkan hatinya terpaut pada majelis dzikir dan pengajian, bukan yang dilalaikan oleh rasa segan.
Sosok yang Engkau segerakan untuk melakukan kebaikan, bukan yang selalu menunda-nunda dan panjang angan-angan.
Sosok yang Engkau pilih mengemban amanah, bukan yang beralasan dengan segala cara untuk menghindar dan menjauh padahal sejatinya butuh.

Ah, Kekasihku... Betapa malu aku menyebutMu kekasihku. 
Tetapi aku akan tetap mengatakan ini sekalipun tidak Engkau akui.

Sekali lagi aku menangis dan mengemis, "Janganlah Engkau biarkan hatiku tertawan pada orang yang hatinya tidak terpaut padaMu ..." 


Ampuni hamba, ya Rabb ... Bukankah rahmatMu teramat luas dan kasih sayangMu meliputi segala sesuatu?

Bolehkah aku kembali menujuMu, ya Allah? Dalam kondisi seperti sekarang ini?
Sekalipun banyak yang telah hilang, aku tetap tidak ingin menjadi orang yang terbuang ...

Yaa muqallib al qulub... Tsabbit qalbii 'ala ad diinika. Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu...



Diantara karakter orang yang beriman adalah at tafaul (optimis), sehingga mereka mampu menatap masa depan dengan penuh semangat dan berbaik sangka (hudznuzhan) kepada Allah SWT. Di dalam Al Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW, banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang urgensi sikap optimis dalam menjalani hidup dan larangan bersifat pesimis. Sebab pesimis adalah sifat orang kafir dan Allah dalam firman-Nya melarang kaum muslimin untuk berputus asa:
“Janganlah kalian berputus asa, karena sesungguhnya tidak berputus asa dari Rahmat Allah kecuali orang-orang kafir“ 

Bagaimana Al Qur’an dan Sunnah membangun semangat optimisme kaum Muslimin sehingga mereka tidak seperti manusia yang tidak memahami Islam karena sering melontarkan ungkapan pesimis?
“Apabila seseorang mengatakan semua manusia rusak, semua masyarakat rusak, makadialah yang paling rusak. Dialah yang merusak bangsanya karena membuat masyarakat menjadi pesimis”

Ternyata di dalam Al Qur’an, Allah SWT memberikan resep yang luar biasa agar setiap kita senantiasa optimis dalam menjalani kehidupa:
1. Iman yang benar. Iman yang benar akan melahirkan rasa aman sehingga seseorang akan selalu optimis. Setiap individu yang beriman selalu merasa aman karena sadar bahwa dirinya sepenuhnya berada dibawah naungan Allah. Rasa aman yang tidak hanya diresapi secara pribadi namun juga mengalir dalam keluarga dan masyarakat. Keimanan ini selanjutnya menghadirkan hidayah sehingga menjadi pribadi yang selalu benar dalam bertindak terhadap keluarga dan bangsanya.
Dalam Q.S al An’am ayat 82 Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ [٦:٨٢]
“Orang-orang yang beriman yaitu mereka yang tidak menodai keimanannya dengan kedzhaliman (tidak menodai keimanannya dengan syirik), mereka itulah orang-orang yang selalu mendapatkan rasa aman dan merekalah yang mendapat petunjuk.”

Hal ini dikarenakan orang beriman tidak akan berani melakukan dosa besar. Jika seseorang mengaku beriman maka ia tidak akan melakukan zina. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Seseorang tidak akan berani berbuat zina jika ia benar-benar beriman.”
Orang beriman juga tidak mungkin berdusta. Maka jika ada orang beriman tetapi masih berbohong, bisa dikatakan bahwa imannya hanya sebatas pengakuan. Dan inilah beda antara orang beriman dengan orang munafik.

2.      At Taqwa. Rasa optimis bisa lahir jika didasari dengan ketakwaan, yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Pemberi Rahmat. Negara kita akan diberikan banyak keberkahan jika semua penduduknya beriman dan bertakwa. Kebaikan yang permanen, datang dari segala arah, dari langit dan bumi. Jika semua masyarakat negeri ini bertakwa, ketika Allah menurunkan hujan dari langit, hujan itu menjadi rahmat. Akan tetapi ketika orang-orang meninggalkan Qur’an dan sunnah, hujan pun menjadi bencana. Bumi tidak lagi bersahabat dan musibah pun terjadi dimana-mana.

Maka dalam menatap masa depan harusnya disambut dengan Iman dan Taqwa, bukan malah memperbanyak titik-titik kemaksiatan.
Dalam Q.S Al a’raf Allah telah menekankan bahwa: “seandainya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, sungguh kami akan membukakan untuk mereka barokah dari langit dan bumi … ”. Ini adalah kaidah kehidupan yang tidak akan berubah sepanjang masa dan berlaku bagi seluruh manusia. Siapapun yang beriman dan bertaqwa maka kebaikan selalu mengiringinya.

3.      Al yaqin bi wa’dillah. Yakin atas janji Allah. Janji Allah adalah sebuah keniscayaan. Janji Allah itu pasti, “barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, rezekinya tidak bisa diukur dengan gajinya”. Sebagai bukti, kita lihat para ustadz yang pendapatannya kecil, tetapi Allah memberi keberkahan anak-anak mereka menjadi anak-anak saleh berprestasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan Negara. Dan Allah juga telah berjanji bahwa orang-orang saleh akan mendapatkan kekuasaan  atas bumi ini. Ketika kaum Muslimin belum memimpin dunia dan memiliki kekuasaan atas musuh-musuh kafir, ketahuilah bahwa Allah tidak akan menyalahi janjiNya.  Mungkin dikhawatirkan kekuasaan justru akan disalahgunakan jika berada ditangan orang-orang beragama Islam tetapi tidak komitmen dengan Al Qur’an dan Sunnah. Orang-orang yang mengaku beragama Islam, tetapi ketika ada masalah, solusinya adalah karena kepentingan pribadi, keluarga, ataupun golongan. Padahal pengakuan itu tidak ada gunanya dihadapan Allah.
Dalam Q.S An Nisa ayat 123 Allah telah berfirman:
لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [٤:١٢٣]
 Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.
Begitulah, kehidupan ini tidak akan pernah sepi dari masalah. Bahkan masalah pun menghampiri manusia yang begitu tinggi budi pekertinya, Rasulullaah SAW. Rumah tangga Rasul pernah mendapat fitnah besar ketika peristiwa haditsul ifki. Nabi juga pernah ditegur oleh Allah dalam berdakwah (dimuat dalam Q.S ‘Abasa). Atau dalam ayat lain Nabi pun ditegur dalam perkara jihad karena memberikan izin kepada orang munafik. Akan tetapi diatas semua masalah yang menimpa beliau, Nabi diberikan solusi karena memiliki bekal iman dan taqwa. Semoga kita menjadi orang yang ditolong dalam melakukan kebaikan-kebaikan, yang dimudahkan segala urusannya oleh Allah ‘azza wa jalla. 

*Intisari ceramah Ust. Ahzami Samiun, pada tanggal 3 Januari 2014 di masjid Bank Indonesia
Saya samar pernah baca kata-kata itu dimana. Tapi kemungkinan besar dalam salah satu buku Salim A. Fillah.

Bahwa orang-orang yang paling bertaqwa saya pikir memang yang paling berhati-hati. Mereka berjuang untuk menjaga diri agar tak jatuh kedalam kubangan dosa, tetapi juga yang paling merasa berdosa. Sebab mereka tahu dengan pasti, sangatlah berbahaya bila diri merasa suci. Lagipula pastinya mereka mengerti, bahwa tidak akan ada manusia yang sanggup lepas dari mendurhakai Rabb-Nya, kecuali hamba-hamba yang disayangiNya.

Entahlah, saya sendiri merasa, masing-masing kita pun memang tak akan mampu mengenal orang sejauh yang diperkenalkan Allah SWT kepada kita. Tetapi diberi kemampuan bisa menebak, mana orang yang takut pada Rabb nya, mana yang berpura-pura, mana yang senang bermaksiat. Tentu firasat yang tepat spt itu, firasat al mukminin, hanya akan ada bila hati selalu terhubung denganNya. Seperti yang pernah disampaikan grup Nasyid Hijaz dalam lagu bernada sendu,

Pandangan mata selalu menipu
Pandangan akal selalu tersalah
Pandangan nafsu selalu melulu
Pandangan hati itu yang hakiki
kalau hati itu bersih

hati kalau selalu bersih, pandangannya akan menembus hijab
hati jika selalu jernih, firasatnya tepat karena Allah
tapi hati bila dikotori, bisikannya bukan lagi kebenaran
tapi hati bila dikotori, bisikannya bukan lagi kebenaran

Terlebih penting, nurani bisa mendeteksi, salah atau benarkah langkah yang dijalani. Nurani pun bisa menjadi acuan, siapa yang tepat dijadikan teman. Maka kali ini saya ingin bercerita tentang mereka, orang-orang yang disebut salih dan bertaqwa. Mereka mempunyai ciri-ciri yang sama, selalu berusaha mengakar di kedalaman, sekalipun sedang mengapung ke permukaan. Dan memang begitulah seharusnya.
Seperti yang dikatakan Ibn Ath Thaillah as-Sakandari,
"Tanamlah kebajikanmu di kedalaman tanah
sebab bebijian yang tampak dan  menggeletak
susah 'tuk mengakar, apalagi berbuah mekar"

Maka, mereka yang disebut sebagai orang-orang salih, para kekasih Allah sama sekali bukanlah orang yang menonjolkan diri. Mungkin memang ada di antara mereka yang menonjol, tapi bukan sebab keinginan dirinya. Dan sungguh hati mereka juga tak pernah menyukai keterkenalan itu. Allah hanya hendak membebani mereka dengan ujian yang lebih berat berupa kemasyhuran. Bukankah suatu hukum alam bahwa, semakin tinggi pohon menjulang, akan semakin dahsyat pula badai menerjang?


Give me a man who has the philosophy books and ancient song albums.
Give me a man who thinks collecting cars are boring and history, civilization, science, Islamic thougt and Education are interesting.
Give me a man who knows how to make a nice cup of tea and doesn't mind make it for me.
Give me a man who actually laughs at 9gag sketches instead of just sitting there smiling because I'm laughing.
Give me a man who actually makes sacrifices for me instead of just saying he will.
Give me a man who needs me as much as I need him.

Give me a case of you.

Itu secuplik tulisan yang pernah nampang on my tiny book: Karena Gadis Bukan Perempuan Utopis.

Rightnow, I just think about him again. Tentang dia, seseorang yang kelak menemaniku dalam perjalanan yang semakin mendekat kepadaMu: aku tak akan meminta yang muluk-muluk. Cukuplah seseorang yang dengannya setiap hari aku bisa ziyadah dan murajaah. Entah itu di rumah, di puncak Gunung Berapi, atau di Menara Eiffel (Berarti dia mesti pria mapan dong ya? ehehe). Cukuplah seseorang yang "pas" denganku ya Rabb... Seseorang yang tidak suka merasa baik dibanding manusia lainnya tapi selalu ingin melakukan yang terbaik dalam ibadahnya. Seseorang yang pergaulannya luas, bijak, arif, dan berhati lapang. Yang saleh dan mensalehkan. 

Menatapnya membuat suatu desingan "cess" dalam hatiku. Pandangannya menyejukkan, melembutkan kekerasan hati, kata katanya menambah keimanan. Seseorang yang dengannya aku "nyambung" berbicara topik apa saja. (Kalaupun tak nyambung kami akan tetap saling tersenyum, menertawakan kebodohan kami). Seseorang yang selalu mengingatkanku jika sedetik saja aku melupakanMu.

Tak sekadar rajin ibadah, namun juga paham esensinya. Seseorang yang tahu tanggung jawab sebagai suami, sebagai Imam  yang membimbing dan melindungi. Aku tak butuh orang cerdas yang tak bijak, wahai Rabb... 

Hanya seorang lelaki bersahaja, tawadhu, tidak berlebih-lebihan dalam segala urusan, pandai bersosialisasi, meletakkan harta di tangan, bukan di hatinya. Mengerti urgensi pendidikan, menuntut ilmu, keluarga, dan dakwah.

Satu kata: Lelaki Bijaksana!

Lelaki bercahaya yang menyinari sekelilingnya. Hingga ketika ia diam pun, orang-orang tergerak untuk melakukan kebaikan....

#Cckckckck. Kenapa gw jadi seserius ini yah? Semacam ada aroma puitis dan melow ginih??
Uhuy!Whatever. Kabulkanlah ya Rabb ...




Disaat intuisi mati rasa dan tingkah tak lagi terbaca, tiba-tiba dapat SMS dari Buya: "jangan biarkan hati dan pikiran Rima dikuasai oleh mereka yang tidak tertawan hati dan pikirannya kepada Allah SWT"

"Sepanjang hidup kita masih terbelenggu dengan perintah keinginan diri sendiri, selama itulah arah kehidupan kita hanya dibawah bayang-bayang ketidakpastian. Belajarlah untuk hidup di bawah kendali Allah karena pemilik kehidupan itu hanya Allah, kita hanya menjalani kehidupan sesuai dengan iradah Allah"
 Seperti biasa kucerna SMS Buya dalam tarikan nafas perlahan dan berpikir lama untuk membalas, hingga...
"Bagimana dengan kekuatan doa yang mengubah takdir, buya?"

"Perbuatan yang akan mengubah takdir, doa adalah mesin penggerak, sopirnya kita. Analoginya, motor dan mesin adalah doa, pengemudinya adalah kita."

"Terkadang saya merasa apa yang saya lakukan sudah sesuai dengan seharusnya. Bolehkah kita berkeinginan agar seseorang kembali pada kita, buya? Seperti kisahnya Yusuf dan Zulaikha?"

"Boleh, tapi sebaiknya percayakan pada Allah, jangan percayakan pada keinginan."

###

"Ada beberapa indikator seseorang disebut sebagai sufi: 1. Baginya datang dan perginya sesuatu sama saja. 2). Dipuji dan dikritik tidak berpengaruh. Apalagi, Buya?"

"Mereka para sufi menganggap sama, kebahagiaan dan penderitaan adalah suatu kenikmatan yang patut disyukuri, kerena, setiap yang hadir dalam kehidupan kita, itu adalah suatu bentuk bahwa Allah sedang memperhatikan kita. Bagi kaum sufi, kehidupan ini milik Allah, kita hanya menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak Allah, bukan kehendak kita. Segala sesuatu yang berasal dari keinginan kita, adalah jalan kesengsaraan, sedangkan yang berasal dari kehendak Allah adalah suatu kenikmatan."
Bermohonlah pada Allah agar hidup kita selalu dikendalikan oleh kehendak Allah, bukan dikendalikan keinginan kita"

"Bagaimana kita tahu, kita telah dikendalikan oleh keinginan kita ataukah itu memang petunjuk dari Allah? Terkadang ada hal-hal yang samar, perasaan tidak jelas, entah ini was-was, entah ini memang hal yang seharusnya dilakukan."

"Ketakutan tidak tercapainya hasrat untuk mendapatkan keinginan dunia, atau takut tidak terwujudnya target yang dicintais atau yang diidamkan selain Allah, adalah bentuk keinginan kita. Ketika hati tidak berharap atas hal-hal tersebut dan yang menjadi harapan adalah ingin dicintai Allah, tentu kita harus mempersiapkan syarat-syaratnya, intinya Allah nomor 1, selain Allah itu urusan Allah, bukan urusan kita."