Showing posts with label my thought. Show all posts
Belakangan saya merasa terlalu banyak dituntut oleh ... entahlah. I'm exhausted from trying to be stronger than I feel.  Terlalu banyak pekerjaan, terlalu sedikit waktu. Terforsir untuk mikir dan kelelahan fisik sekaligus, benar-benar menguras energi.

Well, saya perempuan hamil yang bekerja. I enjoy my job, having good relationship with my husband. Everything seems perfect before, until it becomes problematic somehow.

Pekerjaan saya tidak sampai membuat baju basah oleh keringat layaknya pekerjaan seorang kontraktor. Saya hanya tinggal duduk tenang di ruangan ber-AC (rusak), melayani mahasiswa pasca yang konsultasi (itupun kadang-kadang datang), sekali-kali jalan ke gedung belakang, dan jika tidak libur, beberapa kali harus masuk kelas untuk mengajar.

Tetapi ini pekerjaan yang sering membuat saya berpeluh dingin. Berpacu dengan waktu, butuh pemikiran mendalam, sekaligus ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi. Bukannya saya menganggap pekerjaan saya lebih berat dari yang lain, tetapi saya tak ingin ada yang menganggap remeh apa-apa yang "behind the scene".

Dan sekali lagi, saya sedang hamil.
Curhat sedikit, (lha dari tadi bukan curhat?) ini kehamilan pertama saya, dan saya benar-benar baru tahap belajar menyesuaikan diri. Orang-orang boleh berkata, "ah jangan terlalu cengeng lah, baru segitu aja, nanti anaknya manja, bla ... Bla ... Bla ..." Tapi hanya saya yang benar-benar tahu dan merasakan perubahan yang saya alami. Kehamilan tiap orang berbeda-beda, I think. Tidak bisa dipukul rata, mentang-mentang ada yang pernah hamil lalu meremehkan dengan bersikap seolah merasakan apa yang dijalani orang lain.

Mereka bilang kehamilan harus dijalani dengan tenang. Tetapi, "Bu Rima, sebentar lagi akreditasi"; "Mba Rima, OJS nya belum bisa dibuka"; "Bu Rima, kapan hasil review tesis keluar? Saya mau sidang."; "Bu Rima, terjemahan jurnal saya sudah?"; "Ms. Rima, modul kuliah kapan jadi?"; "Ustadzah, beberapa kader masih belum mengirim laporan perkembangan akademik dan aktivitas dakwah."

Mereka bilang tidak usah merasa terbebani, tetapi menjudge dengan nada meremehkan ketika sesekali saya mengeluh.
Mereka berkata saya bebas ngampus sesuka hati saya,  namun: "Bimbingan sudah Bab berapa?" ... dan seterusnya ... dan seterusnya.

Tenang, saya telah bertekad untuk tidak teriak, "aaaaaaaaaaaaaarrghhh".

Lagipula sekarang saya sedang sadar bahwa dari tadi saya hanya sibuk membicarakan mereka, lupa menunjuk diri sendiri. And a negative mind will never give you a positive life.

Padahal saya berkeinginan melahirkan seorang mujahid sekaligus mujadid. Dan saya sadar betul, seorang ulama yang intelek tidak dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang suka mewek.

Padahal saya berdoa anak saya kelak menjadi seorang Imam teladan dan figur pemersatu, dan saya tahu bahwa untuk menjadi seperti itu dia harus punya ibu yang tidak hobi menggerutu.

Padahal saya berkata saya ikhlas menjalani semua karena Allah, tetapi keluh kesah lebih mendominasi ketika tantangan tak ada agaknya secuil ujian para shahabiyah.

Emosi saya, belum se-stabil emosi aisyah meredam semua keresahan dalam doa merdunya yang tercatat pada al Qur'an, "
“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11).

Fisik saya, belum sekuat Asma' binti Abu Bakar ra yang berani mendaki bukit terjal Gua Tsur dalam kondisi hamil tua demi kesuksesan perjalanan hijrah Rasulullah SAW dan ayahanda tecinta. Ia yang ketika hamil juga pernah mendapat keras tamparan Abu Jahal yang naik pitam.
“Di mana Muhammad dan ayahmu?” tanya Abu Jahal siang itu.
“Mengapa kau bertanya kepadaku? Sejak kapan seorang laki-laki Arab memberitahu kepada anaknya ke mana ia pergi. Bukankah Abu Bakar biasa berdagang ke banyak tempat tanpa memberitahuku?”
“Di mana Muhammad dan ayahmu sekarang?” Abu jahal bertanya sekali lagi.
“Bukankah sudah kujawab bahwa Abu Bakar bisa pergi ke mana saja. Apalagi Muhammad yang bukan ayahku,” demi mendengar jawaban itulah, Asma mendapat tamparan di kepala hingga berdarah dan anting-antingnya lepas.

Juga, mental saya tak semembaja Maryam a.s ketika sendirian terengah ditengah padang pasir. Menyeret perut hamilnya yang makin menua hingga melahirkan Isa a.s tanpa dampingan suami disisi.

Begitulah.


Generasi muslim yang tangguh, memang terlahir dari Ibu yang tak banyak mengeluh. Apapun ujiannya, lelah akan lelah mengejarnya sebab ia percaya jaminan Allah itu ada.

setaniler.heck.in

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTMX-aG3qLYb5-whuFqH-PwousGPPLIDYBCGjsJJpqXbsYQf5A
Suatu hal yang memenuhi pikiran saya belakangan ini, entah mengapa Film Gangster dan the Man from U.N.C.L.E bisa tayang berbarengan di Cinema 21. Apakah kebetulan?  
Film Gangster saya tonton karena rekomendasi sohib yang penasaran melihat akting Dian Sastro berkelahi. 

Sementara film The Man from U.N.C.L.E , setting tahun 1960-an, merupakan film pertama yang saya tonton tanpa didahului rasa skeptis. Biasanya sebelum masuk bioskop, saya akan mencari data-data terlebih dahulu mengenai film yang akan ditonton. Setidaknya dengan mengingat iklan yang ditayangkan pada film sebelumnya. Namun entah disebabkan law of attraction atau apa, film ini menarik perhatian saya pada pandangan pertama sehingga mau menyerahkan Rp 30.000,- pada kasir di Cinema 21, Bogor Trade Mall. Mungkin lantaran disutradarai oleh Guy Ritchie yang sebelumnya sukses memikat melalui Sherlock Holmes fenomenal itu. 
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRh6TZ84NfHWr2_vCScdajHX7zaesIdcg1rpMHTJC3TRG2QBMx3
diculik dari www.thehollywoodnews.com

Alur ceritanya sederhana, namun memuat makna tentang intrik politik, dan persuasive. Film ini mengajak penonton untuk menciptakan perdamaian dunia, melalui acting agen CIA (diperankan oleh Henry Cavill) dan KGB (Armie Hammer) yang terpaksa bekerjasama menghentikan organisasi kriminal. Organisasi dibawah komando Vinciguerra ini tengah menahan dan memaksa seorang ilmuwan Jerman membuat bom. Sebelum menjadi rekan satu tim, dua spionase yang sangat cerdas ini hampir saling bunuh untuk mendapatkan informasi dari anak gadis ilmuwan tersebut (Alicia Vikander).

Pertama, film ini memiliki genre yang sama: action-comedy. Dua-duanya memuat dialog-dialog dan adegan yang mengocok perut. Ada adegan dimana kedua lawan bertemu di kafe, mengaku datang sendiri namun ternyata masing-masing membawa bodyguard. 

Kedua, dalam film ini perempuan diperlihatkan lemah dan sama-sama harus diselamatkan. Gangster' mengisahkan seorang pria (Hamish Daud) yang mencoba mencari jati diri dan orangtua kandungnya ke Jakarta. Tetapi dalam perjalanannya, dia bertemu seorang cewek yang berusaha kabur dari perjodohan dan dikejar para gangster, pesuruh ayahnya sendiri. The Man from Uncle juga sejak awal dibuka dengan perebutan Gabby, anak perempuan ilmuwan Germany. 

Ketiga, film ini memuat pesan: hormati lawan. Lihat saja bagaimana gaya gangster maupun spionase berbicara dan mengenal lawannya.
Illya Kuryakin: Napoleon Solo, the CIA's most effective agent.
Napoleon Solo: Illya Kurakin: KGB, the youngest member to join and pass in three years. 

Yang mengesalkan dari film ini, penjahatnya seorang wanita yang bersembunyi dibalik wajah cantik. Memang sih, sudah lumrah seperti film-film spionase lainnya. Akan tetapi, saya berpikir Guy Ritchie menawarkan sesuatu yang berbeda. Tetapi semoga kekesalan saya tidak mengurangi objektifitas para pembaca untuk mengatakan bahwa film ini bagus dan layak ditonton.
In this life, the hardest thing to do is to be a great woman like Ummi. A great lover who loves sincerely. A great mom with ten complicated children and very naughty. A great friends who will listen all your stories enthusiastically. She is the one who wake up earlier to prepare all our need in the morning, then sleep after all of us falling in our dreams.  She is the one who will check our bags after school then listen to our complaints patiently. Then she will also attend the meeting of her party, met the TPA/MDA children in Surau Gudang, be a MTQ's official, then ba'da Maghrib she's still teaching. 
Everyday.
Yea, everyday without having a bone to pick.

Now, she is gladly accompany his lover in hospital. Frequently back to house checking the children, then go to hospital again.

Ah, Ummi... You are so naive. Remember when I asked you a silly question, "When will your time's off? Never you tired working inside and outside the home? you can say I'm quit, coz to earn the living is Papa's obligation."

You just smile. Then said, "Allah mentakdirkan Ummi menikah dengan Papa, one of the complicated man in the world. Apa artinya hidup tanpa berkarya, berusaha, dan membantu Papa? Terlebih lagi, apa artinya hidup tanpa mengajarkan al Qur'an? Bayaran lelah jika Ummi ikhlas itu sudah pasti, just worry yourself. What the best thing you've done in your life ? Can you be proud in the afterlife?

Lelah aku meneladanimu, Ummi ... 






Terkadang aku merasa bosan bila berada di dekat orang-orang yang membicarakan cinta.
Bahasan yang sangat tak mengasyikkan.
Mungkin karena itulah cinta memang tak perlu dibahas.

Sepintar apapun dirimu menjelaskan komposisi secangkir kopi, apa gunanya jika berbicara di depan orang yang tak pernah meminum kopi?
Atau sekalipun ia rajin minum kopi, kupikir rasa yang dia seruput tak akan sama dengan rasaku.

Ah, Jika cinta masih bisa dibahas
Kurasa itu bukan cinta.


Diantara karakter orang yang beriman adalah at tafaul (optimis), sehingga mereka mampu menatap masa depan dengan penuh semangat dan berbaik sangka (hudznuzhan) kepada Allah SWT. Di dalam Al Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW, banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang urgensi sikap optimis dalam menjalani hidup dan larangan bersifat pesimis. Sebab pesimis adalah sifat orang kafir dan Allah dalam firman-Nya melarang kaum muslimin untuk berputus asa:
“Janganlah kalian berputus asa, karena sesungguhnya tidak berputus asa dari Rahmat Allah kecuali orang-orang kafir“ 

Bagaimana Al Qur’an dan Sunnah membangun semangat optimisme kaum Muslimin sehingga mereka tidak seperti manusia yang tidak memahami Islam karena sering melontarkan ungkapan pesimis?
“Apabila seseorang mengatakan semua manusia rusak, semua masyarakat rusak, makadialah yang paling rusak. Dialah yang merusak bangsanya karena membuat masyarakat menjadi pesimis”

Ternyata di dalam Al Qur’an, Allah SWT memberikan resep yang luar biasa agar setiap kita senantiasa optimis dalam menjalani kehidupa:
1. Iman yang benar. Iman yang benar akan melahirkan rasa aman sehingga seseorang akan selalu optimis. Setiap individu yang beriman selalu merasa aman karena sadar bahwa dirinya sepenuhnya berada dibawah naungan Allah. Rasa aman yang tidak hanya diresapi secara pribadi namun juga mengalir dalam keluarga dan masyarakat. Keimanan ini selanjutnya menghadirkan hidayah sehingga menjadi pribadi yang selalu benar dalam bertindak terhadap keluarga dan bangsanya.
Dalam Q.S al An’am ayat 82 Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ [٦:٨٢]
“Orang-orang yang beriman yaitu mereka yang tidak menodai keimanannya dengan kedzhaliman (tidak menodai keimanannya dengan syirik), mereka itulah orang-orang yang selalu mendapatkan rasa aman dan merekalah yang mendapat petunjuk.”

Hal ini dikarenakan orang beriman tidak akan berani melakukan dosa besar. Jika seseorang mengaku beriman maka ia tidak akan melakukan zina. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Seseorang tidak akan berani berbuat zina jika ia benar-benar beriman.”
Orang beriman juga tidak mungkin berdusta. Maka jika ada orang beriman tetapi masih berbohong, bisa dikatakan bahwa imannya hanya sebatas pengakuan. Dan inilah beda antara orang beriman dengan orang munafik.

2.      At Taqwa. Rasa optimis bisa lahir jika didasari dengan ketakwaan, yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Pemberi Rahmat. Negara kita akan diberikan banyak keberkahan jika semua penduduknya beriman dan bertakwa. Kebaikan yang permanen, datang dari segala arah, dari langit dan bumi. Jika semua masyarakat negeri ini bertakwa, ketika Allah menurunkan hujan dari langit, hujan itu menjadi rahmat. Akan tetapi ketika orang-orang meninggalkan Qur’an dan sunnah, hujan pun menjadi bencana. Bumi tidak lagi bersahabat dan musibah pun terjadi dimana-mana.

Maka dalam menatap masa depan harusnya disambut dengan Iman dan Taqwa, bukan malah memperbanyak titik-titik kemaksiatan.
Dalam Q.S Al a’raf Allah telah menekankan bahwa: “seandainya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, sungguh kami akan membukakan untuk mereka barokah dari langit dan bumi … ”. Ini adalah kaidah kehidupan yang tidak akan berubah sepanjang masa dan berlaku bagi seluruh manusia. Siapapun yang beriman dan bertaqwa maka kebaikan selalu mengiringinya.

3.      Al yaqin bi wa’dillah. Yakin atas janji Allah. Janji Allah adalah sebuah keniscayaan. Janji Allah itu pasti, “barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, rezekinya tidak bisa diukur dengan gajinya”. Sebagai bukti, kita lihat para ustadz yang pendapatannya kecil, tetapi Allah memberi keberkahan anak-anak mereka menjadi anak-anak saleh berprestasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan Negara. Dan Allah juga telah berjanji bahwa orang-orang saleh akan mendapatkan kekuasaan  atas bumi ini. Ketika kaum Muslimin belum memimpin dunia dan memiliki kekuasaan atas musuh-musuh kafir, ketahuilah bahwa Allah tidak akan menyalahi janjiNya.  Mungkin dikhawatirkan kekuasaan justru akan disalahgunakan jika berada ditangan orang-orang beragama Islam tetapi tidak komitmen dengan Al Qur’an dan Sunnah. Orang-orang yang mengaku beragama Islam, tetapi ketika ada masalah, solusinya adalah karena kepentingan pribadi, keluarga, ataupun golongan. Padahal pengakuan itu tidak ada gunanya dihadapan Allah.
Dalam Q.S An Nisa ayat 123 Allah telah berfirman:
لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا [٤:١٢٣]
 Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.
Begitulah, kehidupan ini tidak akan pernah sepi dari masalah. Bahkan masalah pun menghampiri manusia yang begitu tinggi budi pekertinya, Rasulullaah SAW. Rumah tangga Rasul pernah mendapat fitnah besar ketika peristiwa haditsul ifki. Nabi juga pernah ditegur oleh Allah dalam berdakwah (dimuat dalam Q.S ‘Abasa). Atau dalam ayat lain Nabi pun ditegur dalam perkara jihad karena memberikan izin kepada orang munafik. Akan tetapi diatas semua masalah yang menimpa beliau, Nabi diberikan solusi karena memiliki bekal iman dan taqwa. Semoga kita menjadi orang yang ditolong dalam melakukan kebaikan-kebaikan, yang dimudahkan segala urusannya oleh Allah ‘azza wa jalla. 

*Intisari ceramah Ust. Ahzami Samiun, pada tanggal 3 Januari 2014 di masjid Bank Indonesia
Sebentar. Jangan mempersempit makna. "Your man" yang saya maksud disini bukan melulu bermakna pacar. Boleh jadi ayahmu, adikmu, sahabatmu. Pokoknya lelaki yang kau merasa dekat dengannya, merasa kan adanya ta'lif al qulb alias keterikatan hati. Lalu, lelaki yang kau rasa telah menjadi bagian dari dirimu sendiri ini, tengah "menzhalimi dirinya sendiri". Dengan mabuk-mabukan , or may be just smoking.

Selama ini saya hanya melihat adegan dalam film Korea, (ketika seorang lelaki merasa kecewa, merasa menjadi pecundang, stress dengan segala problematika hidup yang melanda, putus cinta, atau sekadar merasa bersalah), mereka melakukan hal-hal gila atau diluar kewajaran. Ngebut-ngebutan di jalan Raya, hiking 1000 mil, yeah "pelarian-pelarian" seperti itu.

OK Man, because you are a man and I know laki-laki terkadang ego untuk curhat sekalipun pada pasangan sendiri, I said you "that's cool". But, do you know what is your woman's feeling when they see you in trouble and not being "the way you are?" Mereka juga "blaming themselves". Merasa bersalah telah membebani kamu. Merasa tak berarti. Merasa Useless, karena kamu lebih memilih melarikan dirimu dalam hal-hal merusak. Bukan apa-apa, pada titik ini saya lihat kebanyakan perempuan benar-benar merasa tak dianggap (dan kemarin saya alami sendiri, ketika seorang sahabat dekat tiba-tiba merokok di depan saya yang jelas tak suka the smoker). Saya merasa saya gagal menjadi penenang hatinya, tidak mampu mendamaikan hatinya yang sedang "berperang" entah dengan apa.

Apalagi jika "your man" adalah seorang kekasih. Maka, jika dua-duanya tidak memahami hak sesederhana namun bisa complicated jika tak segera diatasi ini, yang terjadi selanjutnya: saling menjauh. Apalagi yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan yang menyakiti pasangan masing-masing? Begitu pikir mereka.

Tetapi, mereka yang mengerti, biasanya hanya akan mengambil jarak sesaat, memberi ruang satu sama lain untuk tuma'ninah (berhenti sejenak). Bahwa terkadang ada hal-hal diluar kekuasaan kita. Bahwa setiap orang pernah bertemu jalan buntu, dalam hubungan seromantis apapun. And all we just understand each other.

OK. Saya tutup catatan ini dengan menyanyikan I WON'T GIVE UP nya Jason Mraz (lagunya bisa di download masing2). Saya paling suka bagian ini,

 And when you're needing your space || To do some navigating || I'll be here patiently waiting || To see what you find
'Cause even the stars they burn || Some even fall to the earth || We've got a lot to learn || God knows we're worth it
Dan entah mengapa kali ini saya berharap seseorang membaca dan mendengarkan lagu ini. Don't give up and keep smile :)
Mengapa ya, belakangan ini topik pembicaraan kita hanya soal cinta?
(Angkat bahu). Mungkin karena orang sekitar kebanyakan juga membahas itu melulu. Di kelas, di kontrakan, di kajian. Ustadz Sambo juga kemarin ini mengucapkan kata sederhana namun menjadi bahan pikiran sampai larut malam: "orang-orang beriman dicintai oleh sesamanya yang beriman". Itu berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW:
"Ada 3 perkara yang jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, orang yang mencintai seseorang yang ia tak mencintainya kecuali karena Allah, dan orang yang benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka" (HR Muslim)

Saya jadi mikir hingga insomnia, bagaimanakah kiranya tipikal lelaki yang bisa membuat saya jatuh cinta? Yang bak kata orang-orang, pasangan sekufu dan sepadan? Adakah kecintaan itu akan membuat iman semakin melejit?
Pikiran saya yang tak dapat dimengerti ini langsung me-list daftar teman-teman dari SD hingga S3, dari komunitas yang pernah saya ikuti, adakah diantara mereka yang membuat saya terkagum-kagum?
Jawabannya adalah: Jika cinta dimaknai dengan hati berdebar, selalu mengingatnya sampai rela berkorban jiwa raga, atau berharap hidup bersamanya dunia akhirat, lelaki itu sepertinya TIDAK (BELUM) ADA dalam list dibawah ini:

  1. Teman Lelaki di SD. Kebanyakan teman SD saya yang laki-laki tidak lanjut SMA, apalagi kuliah. Mereka berwirausaha, merantau ke Jakarta. Yang belum menikah kabarnya tinggal satu orang: David Aldio Yahya ('saingan' saya, yang untunglah dia selalu juara 2. He choose to be a nurse). Selebihnya bahkan sudah beranak tiga. #hopeless
  2. Teman Lelaki di SMP. In this junior high school, I was so busy. Mulai aktif di Assalam dan Pramuka, dan usaha Papa lagi bangrut-bangkutnya. Hidup penuh tangisan dan jiwa minder, tak ada waktu untuk mikirin pacaran walau banyak yang nembak. 
  3. Teman Lelaki di SMA.

    Tipikal Ilmuwan, the -IQ diatas rata-rata- men. SMA paling unggul di Kota Solok jaman itu (sekarang kabarnya semua sekolah sudah disetarakan) membuat siswa kebanyakan hanya mikirin belajar, belajar, belajar. Persaingan yang sangat ketat dan rasanya tak penting banget soal cinta-cintaan karena bagi saya Rohis dan Osis sudah sangat menyenangkan. Ada juga sih yang pacaran, tapi tentunya sedikit yang sampai mikirin jodoh dunia akhirat. Lulus SMA, mereka pada merantau ke UI, ITB, IPB, Undip, etc. Banyak juga yang sudah melanglang buana keliling dunia. Lelaki high class dah, dan saya ngerasa ga match. Saya penginnya kan lelaki sederhana yang bisa menundukkan hati saya yang kadang juga sering 'meninggi' karena keadaan. Eng ... Maksudnya? Yah, maksud saya, bukan seorang lelaki yang 'mengapung ke permukaan', namun 'mengakar di kedalaman'. Maksudnya? (Duh, makin ga jelas ya?) Hmm... Susah juga ya menggambarkan tipe Madame Rahmatul Husni ini? OK, I will try to explain! You know the men in KCB? naaah tipe saya yang kayak Azzam itu looh, bukan yang Furqan. Furqan inilah yang saya sebut 'mengapung ke permukaan', dan Azzam itu yang 'mengakar di kedalaman.' Mudah-mudahan dimengerti ya, Pak Malaikat ^^.
  4. Teman Lelaki di S1. Setelah dipikir-pikir, dibanding strata pendidikan yang lain, teman laki-laki saya paling banyak ya di tingkat ini. Sebanyak musuh lelaki saya, yang memandang sinis karena kalah debat atau kalah tinggi IPK, hahaha hari gini masih ada yang ngambek gara-gara IPK lebih rendahh, Gan! Sebenarnya, kalau diliat-liat, GPPS'ers manis-manis juga :D Tipikal aktivis Garis keras ala-ala Soe Hok Gie. Tapi, untuk dijadikan suami, jodoh dunia akhirat?? Nehi, brother! Mending kita debat lagi aja! (Mereka juga ga mau keleuss)
  5. Teman Lelaki di S2. Wew,, ini mah para asatidz yang menjadi idola di komunitasnya masing-masing bahkan dimana-mana. Mengagumkan memang, bagi perempuan-perempuan yang menetapkan kriteria calon suami berdasar seberapa banyak mereka hafal Qur'an, hafal Hadits, atau seberapa puitis kata-kata mereka dalam memberi tausiyah. Masalahnya bukan sekadar itu yang saya cari. Iya, saya tahu, seperti yang disampaikan Ika Natassa dalam twivortiare: "Love is a lot like Google. If you make your search too specific, you'll never find what you're looking for." Namun, bagi saya untuk menikahi seseorang perlu standar 'sreg' dan tidak sreg, hingga istikharah agar diberi petunjuk ke dalam nurani. Dan setiap kali saya istikharah, saya belum mantap menikahi lelaki tipikal "ulama". Sempat saya melawan kehendak bathin dengan mengiyakan salah satu di antara mereka. Yang saya dapatkan setelah itu adalah kehampaan, ketidaktenangan. Padahal orang-orang yang mau nikah kebanyakan wajahnya malah berseri-seri. Saya? Makin kurus hari demi hari. Maka, sujud syukur pada Allah SWT, tidak berlanjut hingga pembicaraan serius antar keluarga.

  6. Para Ikhwan. Karena saya dulunya sempat nyicip jadi Aktivis Dakwah Kampus, banyak berinteraksi dengan Ikhwan. Dari yang sangat 'ghadul bashar' alias menjaga pandangan hingga yang tatap mata bagai elang, ga ada juga yang saya sreg buat di cap sebagai contoh jodoh dunia akhirat. Bukannya meragukan kapasitas mereka sebagai calon Imam, sebagai aktivis dakwah kampus, tentu akhlak mereka tidak diragukan walau sebagian ada juga yang masih bermental bakwan (bakal ikhwan). Yang aktif di jalan dakwah bukan karena amanah namun demi si Aminah. Tapi ya itu, intinya saya ga (belum) sreg.
  7. Para Syabab. Kenangan saya bersama parariijal anti demokrasi ini adalah soal perdebatan mengenai Khilafah, feminisme, kapitalisme, etc. Secara saya dulu background nya FIB ya pasti banyak bahasannya tentang Filsafat. Sementara mereka agak gimanaa gitu dengan induk dari semua ilmu tersebut. Walaupun secara tak langsung sebenarnya mereka banyak menyadarkan saya dari paham-paham SEPILIS. Tulisan saya (yang agak-agak mulai ilmiah) sebenarnya juga kebanyakan terinspirasi dari perdebatan kami. Saya lanjut S2 Pendidikan dan Pemikiran Islam karena penasaran, juga berkat para syabab. Namun, untuk dijadikan suami? Ng... asal tak terlalu keras dan frontal sih, sepertinya layak dipertimbangkan. Saya keras, dia keras. Batu bertemu batu, bisa-bisa muncul api yang membakar rumah tangga kami.
  8. Lelaki Pesilat. (tarik nafas perlahan, tahan, hembuskan perlahan lewat mulut)
  9. Lelaki Pendaki Gunung. Mereka para lelaki macho yang saya temui, sangat menghargai alam. Kelewat puitis juga karena sering merenung. Tipikal koleris dan mellow pada saat bersamaan. Perpaduan pribadi yang unik sih, humoris melankolis dan ada juga yang ketus-ketus gimanaa gitu. Coba aja mereka ga terlalu sering ngucapin 'an**ng, kam**et', "boh*i,"etc. Pasti saya tergila-gila level Dewa.
  10. Lelaki WBF. Keren, keren. Selain bakat nge band, ada juga yang pintar ngaji. Bersuara merdu, kalau jadi Imam shalat pastinya bikin haru. Hanya saja, saya sudah terlanjur menancapkan garis: sahabat adalah sahabat, tak bisa jadi pasangan. Saya merasa tak enak saja menikah dengan teman sepermainan. It's not jealousy that destroy love, you know, but boredom.
  11. Sohib Bule. Siapa? Alan? Victor? Bhuwahaha! They are open minded, but it's not the only standard to take them as husband. Kecuali mereka mau jadi mualaf, ada kemungkinan. Apa?
Hahay sudahlah.. kalau ditambah-tambahi, akan jadi panjang deretannya. Sebenarnya, jodoh saya itu sudah ada, kata Allah. Dan janji Allah itu pasti. Ini saya lagi berusaha menunggu dijemput. Bisa jadi, meskipun menurut saya tak ada dalam daftar di atas, kenyataan berkata lain nantinya.

Sekarang jangankan anda, saya pun bertanya-tanya, siapalah dia yang bersedia menyelamatkan saya dari kejombloan bertahun-tahun. Dan yang terpenting, yang dengan sadar 'mengambil' saya lewat perjanjiannya dengan Tuhannya. Dengan Mistaaqan Ghaliza yang membuatnya tak akan berani menyia-nyiakan saya. Bukan karena saya memang ia cintai, melainkan lebih disebabkan oleh kecintaanNya pada Rabb nya.
Makanya kelak jika Ijab kabul telah terucap, saya pun bertekad akan mencintainya sepenuh hati. Serius memberikan perhatian, jiwa, dan raga (gawat.. gawat... pikiran saya jadi mulai jauh!). Kita akhiri saja tulisan ini sampai disini.


*PS: Best quote today. From Ustadz Felix Shiaw:

berdekatan itu bumbunya cemburu | bila berjauhan diganti dengan rindu
banyak hal yang tak mampu dijawab ilmu | namun hanya bisa diselesaikan oleh waktu
menunggu itu proses aktif bukan pasif | jadikan diri pantas bukan jalan pintas
demikian dalam rindu ada sakit menyengat | juga ada rasa berbunga elok nan nikmat
ingatlah pada Allah dan tenangkan hati | satu saat semua rasa itu akan terganti
hidup memang rangkaian ketidakpastian | karenanya kita belajar menghargai harapan
semuanya akan tiba waktunya | pantaskan diri itu yang utama

Jodohku, sungguh aku rindu ... hiks.

As long as I do and think about a research, this S3's challenge is so hard. I have changed my title of dissertation for two times. Firstly, it's about homeschooling but I give it to my friend who wants to analyze that topic also. Second, the Pre wedding school, I argue that this research ;in Salman ITB and APWA will help me to learn more about marriage and prepare my self better. However my supervisor said that I could do more than that, and he ask me to look for another one more sophisticated.

It's been 1 year I think seriously about sophisticated one. I really have spent up my time even leaving ma'had for the sake of this research. Something which makes me dizzy, why my lecturers are too trusting me to investigate something more difficult? "Itu terlalu sederhana buat kamu, please just give that small thing to others."

Hahay.
A brief conclusion is, determining a dissertation entitled seems as difficult as like choosing a partner for the rest of your life. Sometimes I want to give up if I do not remember the importance of this struggle. Should I get married soon so that there is a shoulder to lean on?
 Hiks. Viva La Vida, Rima, If you think you can, you can!





Give me a man who has the philosophy books and ancient song albums.
Give me a man who thinks collecting cars are boring and history, civilization, science, Islamic thougt and Education are interesting.
Give me a man who knows how to make a nice cup of tea and doesn't mind make it for me.
Give me a man who actually laughs at 9gag sketches instead of just sitting there smiling because I'm laughing.
Give me a man who actually makes sacrifices for me instead of just saying he will.
Give me a man who needs me as much as I need him.

Give me a case of you.

Itu secuplik tulisan yang pernah nampang on my tiny book: Karena Gadis Bukan Perempuan Utopis.

Rightnow, I just think about him again. Tentang dia, seseorang yang kelak menemaniku dalam perjalanan yang semakin mendekat kepadaMu: aku tak akan meminta yang muluk-muluk. Cukuplah seseorang yang dengannya setiap hari aku bisa ziyadah dan murajaah. Entah itu di rumah, di puncak Gunung Berapi, atau di Menara Eiffel (Berarti dia mesti pria mapan dong ya? ehehe). Cukuplah seseorang yang "pas" denganku ya Rabb... Seseorang yang tidak suka merasa baik dibanding manusia lainnya tapi selalu ingin melakukan yang terbaik dalam ibadahnya. Seseorang yang pergaulannya luas, bijak, arif, dan berhati lapang. Yang saleh dan mensalehkan. 

Menatapnya membuat suatu desingan "cess" dalam hatiku. Pandangannya menyejukkan, melembutkan kekerasan hati, kata katanya menambah keimanan. Seseorang yang dengannya aku "nyambung" berbicara topik apa saja. (Kalaupun tak nyambung kami akan tetap saling tersenyum, menertawakan kebodohan kami). Seseorang yang selalu mengingatkanku jika sedetik saja aku melupakanMu.

Tak sekadar rajin ibadah, namun juga paham esensinya. Seseorang yang tahu tanggung jawab sebagai suami, sebagai Imam  yang membimbing dan melindungi. Aku tak butuh orang cerdas yang tak bijak, wahai Rabb... 

Hanya seorang lelaki bersahaja, tawadhu, tidak berlebih-lebihan dalam segala urusan, pandai bersosialisasi, meletakkan harta di tangan, bukan di hatinya. Mengerti urgensi pendidikan, menuntut ilmu, keluarga, dan dakwah.

Satu kata: Lelaki Bijaksana!

Lelaki bercahaya yang menyinari sekelilingnya. Hingga ketika ia diam pun, orang-orang tergerak untuk melakukan kebaikan....

#Cckckckck. Kenapa gw jadi seserius ini yah? Semacam ada aroma puitis dan melow ginih??
Uhuy!Whatever. Kabulkanlah ya Rabb ...

Pernah dengar ungkapan "kalaamun naas laa yantahiy?"
Komentar manusia tak akan pernah selesai. Ini berdasar cerita seorang bapak, anaknya dan seekor keledai. Bahwa ketika mereka berjalan, seantero kampung mengomentarinya berbeda-beda. Ketika bapak itu naik keledai, anaknya berjalan kaki, orang-orang berkata, "ckckck, bapak tegaan ya sama anak." Ketika anaknya yang naik keledai sementara bapaknya jalan kaki, orang-orang berkomentar lagi, "ana durhaka, menzhalimi bapak." Begitu seterusnya hingga akhirnya ketika mereka menjunjung keledai pun orang-orang tetap berkomentar. (cerita selengkapnya banyak di google)

Jika ingin meneliti bagaimana reaksi orang-orang, bersikaplah diluar kewajaran mainstream. Sedangkan kalau mau membentuk image di depan khalayak ramai itu mudah saja: ikuti keinginan mereka.  They even will judge you as an angel, guys!
Dulu, jaman saya masih jadi aktivis (akhwat berkantong tipis :D), saya benar-benar mengesankan diri sebagai perempuan "jual mahal" yang super sibuk memegang amanah lebih dari 3 organisasi dan tidak peduli dengan urusan percintaan apalagi lelaki "pura-pura serius" yang ngajak saya nikah lewat aktivitas pacaran. Seperti dugaan saya, image saya terbentuk sebagai: perempuan ekslusif. Itulah yang saya inginkan dan itu juga yang komunitas saya mau. Anti VMJ alias Virus Merah Jambu. Bodoh amat soal lawan jenis, kuliah kerja dakwah jauh lebih penting, gitu prinsipnya.

Kemudian tatkala aktif di BEM, rajin demo dan aksi, sering protes sana-sini, men "skak matt" lelaki dalam debat, dan menampilkan sosok perempuan emosional syekalleee alias tak ada lemah lembutnya dengan menggebrak meja dalam rapat di depan pria-pria sastrawan FIB bersuara lantang, saya pun tahu bahwa kemudian saya akan digelari sebagai: feminis. (Gelar feminis ini menguap begitu saja saat saya ambil beasiswa S2 jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam yang notabene malah tugasnya mengcounter paham-paham sekuler).

Beda lagi jika saya pulang ke Solok. Berhubung Papa saya gawatnya memang cukup ternama, maka saya harus jadi anak manis. Hidup penuh dengan kontrol sosial dari masyarakat. Mendapat pujian dan kritikan dalam waktu bersamaan. Jika saya berprestasi, mereka akan berkomentar "Wajar, anak Buya ... " Jika saya pulang ba'da Maghrib, nantinya akan ada remaja tanggung yang melakukan pembenaran dengan ucapan: "anak Buya saja pulang Maghrib ndak dilarang kok Mak..." Lalu mereka akan protes ke Papa. Lalu Papa akan membuat seabrek aturan dan peringatan agar saya selalu tetap dianggap sebagai "anak manis." Maka ketika kuliah saya jarang pulang. Saya (sok) sibuk dan menyibukkan diri di kampus. Bukan  saya tak cinta keluarga, saya hanya muak kehidupan pribadi saya dikomentari mulut-mulut tak bertanggung jawab. Mulai dari kerudung yang saya pakai hingga lelaki mana yang kira-kira akan menjadi suami saya kelak.  Yang mana selalu membuat saya curiga bahwa lelaki di kampung saya jangan-jangan berusaha mendekati saya hanya karena ingin mendapat cap sebagai "menantu Buya" saja. Ujug-ujug saya jadi senang di Padang karena tak ada yang tahu bahwa saya anak Buya kecuali segelintir kawan dekat.

Komentar manusia memang tak pernah habis. Dulu saya dianggap jual mahal, sekarang saya dianggap terlalu agresif. Melawan opini para lelaki di kelas yang bilang saya 'idealis-perfeksionis' alias terlalu pemilih, saya pun berusaha bersikap agak cair pada lawan jenis. Apa yang meresahkan perempuan di usia 20 tahun ke atas? Ketika belum ada laki-laki yang melamarnya atau malah di PHP *untungnya yang saya alami beda dikit, modusnya tanpa kode-kodean yang bikin ke ge er an, melainkan dikasih bangunan harapan lalu hancur oleh gempa :Ds

Saya pun jadi nanya-nanya dong ya, kira-kira apa yang bikin lelaki ga melamar saya? Saya introspeksi diri, apa jaman saya cuek-cuek dulu ada bahasa penolakan saya yang bikin lelaki sakit hati? Keknya ga deh. Buktinya, yang pernah eror nembak saya itu masih sopan kalau ketemu.  (nyadar kali yaa, udah mencintai orang yang salah, manusia split personality macam saya ini memang langka. Khuhuhuhu)

Unjuk pendapat dengan angket terselubung, para Ustadz di kelas saya menyarankan: "atuh coba agak 'melunak' neng, laki-laki khawatir pada wanita yang lebih cerdas dari dia, lebih tinggi penghasilannya dari dia,dll. Bagaimana kalo neng Rima jadi Khadijah abad ini?
Glekk!! What??! Dari dulu saya mah dikejar-kejar dan sekarang saya yang mesti ngejar-ngejar gituh??? miapaaaa -_-

"Loh apa salahnya menawarkan diri pada orang yang setidaknya 10% akhlaknya menyerupai Rasulullah? Status sosial Ukhti membuat minder para lelaki."

Ntar. Saya mikir ada benarnya juga. Seseorang-yang-dulunya-berencana-menikahi-saya mundur karena itu 'kan? Karena status? "tak pantas untukmu, carilah ikhwan lain yang lebih baik." Benar-benar gaya pencampakkan yang halus #lapingus

Maka, ketika saya melihat ada ikhwan yang lumayan memenuhi setidaknya 5 kriteria saya: tidak merokok, rajin ke masjid, mandiri, tidak temperamen,  berkomitmen tinggi untuk dakwah. Saya pun menggunting sedikit urat malu untuk rajin nanya-nanya dia via WA. *Sebenarnya awalnya tetap dia yang mulai sih, dia yang add saya duluan gitu di facebook.

Benar juga kata dunia, jodoh itu semakin dikejar malah semakin menjauh. Dari dulu makanya saya males ngejar-ngejar 'kan? Ini gara-gara ngikutin saran Ustadz nih!
Benar saja. Saya keknya langsung dapat cap "perempuan agresif". Itu si Ikhwan jadi 'alergi' banget biacara dan ketemu saya. Emang saya bawa virus muntaber?

Saya lupa kata-katanya seperti apa karena langsung saya hapus ketika selesai baca, nyelekit banget bagi saya yang seumur hidup baru kali ini nyoba jadi cewek agresif yang setengah pura-pura kebelet nikah . Intinya dia bilang "saya kurang suka akhwat yang gimanaaa gitu." Tadinya mau saya pura-pura nanya, "gimanaaa gitu" gimana maksudnya?
Tapi sudahlah, keknya citra saya sudah terlanjur jelek di mata dia. *heleeh ngomongin citra...
I think it's not necessary be closed to a person (a man) who just focus on your weakness!


Lagipula saya juga yang gokil ngikutin saran orang lain tanpa pikir panjang. Tapi yasudahlah, ambil hikmahnya saja. Lain kali, alih-alih mudah terpengaruh, lebih baik saya dianggap cewek idealis perfeksionis lagi. Julukan itu lebih elegan, sizta!
November 21, 2012 at 1:13pm
 “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan__Rohana Kudus (1911).

Dekadensi moral yang terjadi pada kaum wanita saat ini semakin membuka mata bahwa emansipasi pun patah taji dalam meningkatkan martabat perempuan. Hal ini dikarenakan ideologi feminis yang berkembang dan penerapan kesetaraan gender di Indonesia hanya "membebek" Barat tanpa memperhatikan nilai-nilai susila yang diajarkan agama. Juga meski tak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran yang 'adiluhung', segala hal berbau Barat menjadi acuan budaya masa kini. Maka berdengunglah slogan-slogan 'perempuan tertindas' yang menarik perhatian para wanita sehingga mereka phobia dengan budaya dan agama mereka sendiri, alih-alih mempelajari lebih lanjut. Slogan yang cukup provokatif karena _entah mengapa_ yang ditonjolkan adalah 'ketertindas perempuan nya' bukan malah 'bagaimana caranya agar perempuan bisa tidak tertindas'.

Jika kita melihat Barat dari kacamata film yang cukup representatif, sampai Tahun 1915, peranan wanita hanyalah sebagai manusia lemah tak berdaya yang selalu ditolong oleh lakon pria. Wanita hanyalah lakon komplementer, sebaliknya laki-laki merupakan jagoan tangguh dan pahlawan yang dielu-elukan. Kemudian  sejak dimulai pemotretan  jarak dekat (close-up), para sineas tertarik menjadikan wanita sebagai "alat hiburan" sehingga muncullah Dewi Sex yang pertama yaitu Theda Bara; yang selalu memainkan peranan sebagai pemikat hati lelaki, menikmatinya lalu memusnahkannya. Penghargaan terhadap kaum perempuan mulai naik sedikit _katanya_ ketika Tahun 1923 muncul Scott Fitsgerald dengan film-nya "Up Here from Heaven"  dibintangi oleh wanita berambut pendek, mengisap rokok dengan pipa menjadi mode yang ditiru oleh wanita-wanita Amerika.

Bagaimana penerapannnya di Indonesia? Tidak sulit menemukan 'perempuan-perempuan preman' ini sekarang. Mereka bertebaran di setiap lini. Seorang wanita berambut pendek berperan sebagai direktur perusahaan , kondektur bus dengan mulut menyemburkan asap rokok (bahkan kadang lebih lihai daripada laki-laki), wanita tukang palak di pasar, penjaga diskotik pemilik accessoris anting di lidah, anak sekolahan berambut pendek cepak dengan atau tanpa make up, bisa ditemukan dengan mudah.

Di satu sisi mungkin masyarakat terheran-heran bahkan antipati dengan kelahiran "perempuan-perempuan preman" ini. Perempuan-perempuan yang _lagi-lagi katanya_mampu mendobrak sebuah prototipe makhluk bernama "wanita". Yang selalu dikatakan lemah tak berdaya dan hanya berselindung dibalik ketiak laki-laki sebagai tulang rusuk yang bengkok. Namun disisi lain, para perempuan yang 'berhasil' menempuh "the road which is not taken" ini kadang juga bermanfaat bagi perempuan lainnya dalam berbagai keadaan. Seorang perempuan yang bekerja sebagai tukang ojek atau sopir angkot misalnya, membuat perempuan lain merasa aman dan memudahkan urusan. Di Jakarta sering ada kondektur metromini perempuan yang lebih tegas dan galak dibanding laki-laki, sehingga tidak ada penumpang yang berani untuk tidak membayar ongkos. Banyak juga perempuan ketua preman pasar yang 'pintar' menggertak sehingga anak buahnya para penjarah pun bertekuk lutut.

Keberadaan perempuan-perempuan seperti ini agaknya telah menjadi suatu keniscayaan. Dalam sejarah Islam pun ditemukan adanya para perempuan pemberani, gigih, pejuang dan penuh ketegasan. Isteri Abu Thalhah pernah menenteng senjata lalu dibenarkan oleh Nabi. As Syifa (20 H - 640 M) pada masa Khalifah Umar bin Khattab diangkat menjadi Kepala Urusan Pasar. Empat Ratu pernah berturut-turut memimpin selama hampir satu abad di Kerajaan Bhopal. Mereka adalah Qudsiyah Begum (1820-1835), Sikandar Begum (1848-1869) Syahjihan Begum (1868-1901), Sultan Jihan Begum (1901-). Ratu Sikandar Begum bahkan pernah membantu Kerajaan Inggris dalam memadamkan pemberontakan Sepoy dari kaum Hindu pada tahun 1857. Karena itulah T.W Arnold memuji - muji mereka dalam bukunya Ensyclopedia Islamica, "mereka mempunyai kemahiran seorang negarawan (politician) yang tidak kalah keahlian politiknya dari negarawan lelaki manapun. Dalam waktu 6 tahun mampu menutup hutang-hutang negara dan menjadikan hidup rakyat makmur dan stabil"

Di Indonesia juga banyak perempuan - perempuan yang 'ditakuti' para panjajah seperti Cut Nyak Dien, Malahayati , Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh, Rohana Kudus dari Sumatra Barat, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan, dll karena konsistensi mereka melawan monopoli penjajah dalam perekonomian maupun pendidikan.

Akan tetapi, dari kesemua perempuan-perempuan hebat yang dikenal itu, tak satupun dari mereka yang  pernah tercatat dalam sejarah berambut pendek, beranting di lidah, memakai celana hawai dengan sepatu boot apalagi merokok memakai pipa. Mereka juga memperjuangkan hak-hak mereka tapi memperhatikan norma-norma dan tuntunan, tidak hanya mengutamakan rasionalitas apalagi meniru-niru.

Dalam Al Qur'an pun tidak pernah disebutkan bahwa perempuan dan laki-laki itu tidak setara. Bahkan ada hadist dengan tegas melarang perempuan menyerupai laki-laki. Karena sesungguhnya, justru dengan meniru laki-laki lah jatuhnya martabat seorang perempuan.